Dari ‘Aisyah –radhiallhu ‘anha-, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, beliau bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْـخَصِمُ.
“Sesungguhnya laki-laki yang paling dibenci oleh Allah adalah yang keras dalam perdebatan dan permusuhannya.”[1]
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) –rahimahullah– berkata:
“Orang-orang belakangan telah tertipu dengan hal ini, mereka sangka bahwa yang banyak bicara dan perdebatannya dalam masalah agama dianggap bahwa ia lebih berilmu dari selainnya. Dan ini murni kebodohan, lihatlah kepada para senior Shahabat dan para ulama mereka, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu’adz, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit! Bagaimana keadaan mereka? Perkataan mereka lebih sedikit dari perkataan Ibnu Abbas, padahal Ibnu Abbas dibawah mereka ilmunya.
Demikian juga perkataan Tabi’in lebih banyak dari perkataan Shahabat, padahal Shahabat lebih berilmu dari mereka.
Demikian Tabi’ut Tabi’in, perkataan mereka lebih banyak dari Tabi’in, padahal Tabi’in lebih berilmu dari mereka.
Maka ilmu bukanlah dengan banyak riwayat dan berbicara, akan tetapi dia itu cahaya yang tertanam dalam hati, dimana seorang hamba memahami kebenaran dan dengannya ia dapat membedakan antara hak dan batil, serta ia sampaikan dengan ungkapan ringkas dan menghasilkan maksud.
Sungguh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah diberikan Jawaami’ul Kalim dan dijadikan perkataan baginya ringkas. Oleh karena itu, datang larangan (agama) dari banyak berbicara dan berluas-luas dalam berita tidak jelas.”
“Maka wajib diyakini; bahwa tidak setiap orang yang meluaskan perkataan dan pembicaraannya dalam ilmu; dianggap lebih berilmu dari yang tidak seperti itu.”
“Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa orang-orang setelah mereka lebih sedikit ilmunya dan lebih banyak membebani dirinya.